“Kara kamu di mana?”
“Di rumah Ren, kamu di mana?”
“Aku mau ke sana boleh?”
“Tentu. Ada apa Ren?”
“Hanya ingin cerita saja, Ra.”
“Baiklah, sini kamu.”
“Oke!”
Setengah jam kemudian Karen sudah berbaring di sebelahku. Wajahnya sangat bahagia. Aku tahu ini pasti tentang Abi.
“Aku bahagia sekali Ra akhir-akhir ini.”
“Tentu, aku benar-benar bisa melihatnya.” Karen tertawa senang dan berkata lagi,
“Belum pernah ada yang memperlakukanku semanis itu.”
“Ayo cerita.”
“Aku tidak pernah dibiarkan jalan sendiri di tengah-tengah kesibukannya. Aku di mana diantar jemput, bahkan kemarin waktu aku mau beli bando dia mau saja kuajak masuk ke Phoebe and Chloe untuk membantuku memilihkan bando.”
“Sungguh?”
“Iya Ra, cowok sebaik Adi saja tidak mau kalau diajak masuk Phoebe and Chloe.”
“Iya, luar biasa sekali dia.”
“Lalu kamu tahu kan aku sering insom?” Aku mengangguk, “Dia menelponku tiap malam Ra, aku terkadang suka dinyanyikan atau sekedar diajak ngobrol sampai akhirnya benar-benar mengantuk.”
Aku tersenyum. Senang sekali mendengar ada yang perhatian segitunya pada Karen. Terlebih lagi ini pria nyata, bukan sekedar idola tidak tergapai semacam TBTL.
“Kapan hari itu aku benar-benar kaget saat dia anterin aku kuliah pagi ya Ra, tiba-tiba dia kasih aku kotak makan gitu, katanya sarapan pagi. Manis sekali ya!”
“Aku benar-benar iri sekarang.”
“Makanya Ra, pacaran saja dengan Adi.” Aku terdiam sejenak. Kejadian sore tadi terputar ulang di kepalaku. Entah harus menceritakannya pada Karen atau tidak. Kalau ia tahu ia pasti sedih tapi, ehmm, ya kurasa jujur memang baik.
“Aku bertengkar dengan Adi, Ren,” Karen menatapku terkejut.
“YANG BENAR SAJA?”
Aku mengangguk.
“Alasan?”
“Entahlah, dia tiba-tiba marah, aku memang telat si ke latihan saxo-nya.”
“Cuma karena itu? Aneh, rasanya sangat tidak Adi.”
“Tidak, dia marah tentang Radit.”
“RADIT? RADIT TBTL ITU??”
“Santai Karen.”
“Oh baiklah, memangnya apa yang terjadi sampai dia marah soal Radit?”
“Radit sakit, aku menjenguknya, akhirnya telat datang latihan. Dia mungkin merasa aku sedikit tidak tahu diri Ren, aku telat dan masih belum menguasai lagunya. Maksudku sesabar-sabarnya Adi juga punya batas, iya kan?”
“Iya sih. Hmm tapi Ra, kamu percaya tidak pola pikir Adi mirip denganku?”
“Iya memang sih agak. Tunggu, sebenarnya kamu membawa pembicaraan ini ke arah mana?”
“Aku merasa sebenarnya Adi cemburu.”
“Hah?”
“Iya dia cemburu.”
“Atas dasar apa?”
“Kamu mementingkan Radit dari dia.”
“Astaga. Mana ada hal seperti itu?”
“Terserah si Ra, tapi aku memang merasa Adi sayang padamu. Sayang yang berbeda dari sayangnya padaku.”
Aku terdiam, berusaha memutar otak. Mananya yang berbeda? Toh dari kecil kami selalu bertiga, Adi selalu adil padaku dan Karen. Tidak pernah ada perlakuan spesial tidak pernah ada pernah ada petunjuk-petunjuk.
“Ra,” Karen menyentuh tanganku.
Aku tersenyum,
“Sudahlah Ren, mending kamu ceritakan lagi soal Abi. Gimana?” Raut wajah Karen langsung berubah.
“Kamu harus tau Ra, waktu aku kelas jam 1 siang kan aku tidak sempat makan siang tiba-tiba dia muncul di kampus membawakan pizza.”
“Hah sungguhan?”
“Iya Ra, lalu kemarin itu waktu aku habis konser kecil di Café Dumont dia bawain aku sebuket mawar merah trus hadiah gitu.”
“Isinya apa memang Ren?”
“Alkitab kecil. Aku pernah bilang padanya aku jarang baca alkitab trus dia bilang setidaknya kalau dari dia siapa tahu aku niat baca.”
“Hah gila ya? Manis sekali. Kamu udah jadian belum si Ren?”
“Belum. Sebenarnya dia sempet bilang suka tapi aku bilang belum siap aja.”
“Sekarang?”
“Owh, he got me, totally.” Aku tertawa mendengar jawaban Karen dan memeluknya.
“Happy for you dear.”
“Ohya Ra, Abi ini keponakannya yang punya Hotel Tonhil.”
“Ohya? Kenapa dia kuliah kedokteran ya bukan perhotelan saja? Pasti lebih gampang sukses kan om-nya tuh yang punya.”
“Iya sih, tapi kata dia dari kecil memang mau jadi dokter.”
“Spesialis?”
“Ya, kulit.”
“Wohoow, kalo sukses bisa jadi pabrik uang dia.”
“Matre kamu, Ra.”
“Loh memang benar, sayang. Dokter kulit tuh memang penghasilannya besar.”
“Pokoknyaaa aku bahagiaaaaa sekali.”
“Ahahaha iya Ra. I know. Semoga sukses deh ya sama yang satu ini.”
“AMIIINNNNN”
***
Aku melihat handphoneku dan mengamati layarnya berkedap-kedip sejak tadi tidak ada henti. Adisurya Wisnuputra terpampang jelas di layar. Aku tidak ingin mengangkatnya. Tapi, apakah aku terlalu egois untuk tidak mengangkatnya? Pernahkah aku berpikir, jangan-jangan tadi Adi sangat lelah hingga lekas tersulut? Atau jangan-jangan sebenarnya aku yang egois karena sebenarnya aku yang telat, aku yang tidak bisa meniup saxo-ku dengan baik. Tapi apakah ia harus segitu marahnya? Dan mengatakan sesuatu yang sungguh-sungguh tidak pantas didengarkan seperti itu? Mengapa aku tidak mengangkat telponnya? Apakah aku tidak ingin memberinya kesempatan untuk minta maaf? Memangnya dia meneleponku untuk minta maaf? Bagaimana aku bisa segitu percaya dirinya? Bagaimana kalau pada akhirnya ia hanya memakiku lagi?
TOK!TOK!TOK!
“KARA BUKA PINTUNYA!” Aku terkesiap. Suara yang begitu akrab. Aku menghela napas panjang, tahu ini akan terjadi.
“KARA BUKA PINTUNYA!”
Aku berjalan ke arah pintu perlahan. Merasa malas. Tidak ingin bergerak. Tidak ingin membukakan pintu untuk siapapun itu yang di luar. Tanganku menjamah kenop pintu perlahan dan memutarnya.
Adi tampak hendak mengetuk pintunya lagi ketika aku membukanya, ia sedikit terkejut. Wajahnya tampak kacau.
“Kara aku minta maaf. Aku benar-benar tidak seharusnya berkata seperti itu kepadamu, Ra. Aku hmm tadi aku hanya kelelahan. Aku…”
Aku mengangguk. Adi terdiam.
“Aku juga tidak seharusnya marah padamu. Aku yang salah aku terlambat dan masih tidak bisa meniup lagunya dengan baik.”
Adi tersenyum.
“Boleh aku masuk?”
Aku mengangguk dan bergeser dari pintu membiarkannya masuk ke kamarku. Waktu kecil, kamarku ini adalah tempat main petak umpet yang paling kami senangi, tempat tidur siang yang paling nyaman dan tempat nonton film kartun sambil mengemil chocolate chip cookies favorit kami.
Adi duduk di sofa depan TV, sofa beludru bewarna biru gelap. Aku mengikutinya.
“Tadi Karen ke sini?”
“Ya.”
“Aku baru saja didampratnya karena memarahimu, Ra.”
“Ohya?”
“Katanya aku marah secara tidak logis.”
“Aku sebenarnya juga tidak mengerti Di, tapi ya memang suatu saat seseorang bisa kehilangan kontrol emosinya jika kelelahan. Bukankah begitu?”
“Mungkin.”
“Ya sudah Di, aku tahu aku memang keterlaluan kok. Hanya lain kali aku tidak suka sama sekali kalau kata-katamu begitu.”
“Maaf, Ra.”
“Iya,” aku memberinya senyum. Adi membalas senyumku.
“HHHH AKU LEGA SEKALIII,” katanya sambil menguap. Ternyata bertengkar dengan adik sama sekali tidak melegakan.
Aku tertawa kecil.
“KARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”
Aku dan Adi sama-sama terkejut. Ribut-ribut dan teriakan datang dari arah bawah. Kami berhadapan dan saling tersenyum. Hidupku memang penuh kejutan akhir-akhir ini.
*end of chapter nine.
>>to be continued.